BAB
2
2.Pembahasan
2.1.Tauhid
Sebagai Landasan Aqidah,Iman dan Islam.
A.Pengertian
Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam Rubbiyah , ikhlas beribadah kepada Nya,Serta menetapkan bagi-
Nya nama –nama dan sifat- sifat –Nya.Dengan kata lain Tauhid itu ada tiga macam
yaitu tauhid rububiyah,uluhiyah dan asma’ wa sifat.
2.2.Pembagian
Tauhid
A.Tauhid
Rubbiyah
Tauhid Rubbiyah adalah mengesakan Allah SWT dalam
segala perbuatan Nya,dengan meyakini bahwa dia sendiri yang menciptakan segenap
makhluk .
Dalam
definisi lain dijelaskan lebih lanjut bahwa Tauhidu rububiyah adalah penetapan
bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan
juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan,
Pemberi Kemanfaatan dan Kemudharatan, yang Maha Esa dalam mengabulkan doa bagi
orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala
kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sekutu dalam hal
tersebut. Dan ke-imanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini.
Adapun dalil – dalil nya adalah :
“Segala
puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah: 2)
Pengertian Rabb adalah yang menciptakan, menguasai, dan yang mengatur alam
sebagaimana yang Allah kehendaki.
“Sesungguhnya
Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan
dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.”
(QS. Al A’raf: 54)
“...Adakah Pencipta selain Allah yang dapat
memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain dia;
Maka Mengapakah kamu berpaling?” (QS. Fathir: 3)
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”
(QS. Az Zumar: 62)
“Maha suci Allah yang di tanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu.” (QS. Al Mulk: 1)
Namun, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim bila hanya
mengakui tauhid rububiyah ini saja. Karena kaum musyrikin pun mengakui tauhid
rububiyah ini. mereka pun mengakui bahwa Allah-lah Rabb alam ini, pemelihara
semesta ini.
B.Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah tauhid ibadah. Karena ilah maknanya adalah ma’bud bi haqqin (yang diibadahi dengan benar).
Maka tauhid uluhiyah ini dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada
Allah ta'ala. Dalam kecintaan, khauf (takut), raja' (harapan), tawakkal, raghbah(permohonan dengan sungguh-sungguh), rahbah (perasaan cemas), dan doa hanya
bagi Allah satu-satunya. Serta memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya, baik ibadah
yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Serta tidak menjadikan hal tersebut untuk selainNya. Tidak untuk malaikat yang
dekat dengan Allah ta'ala, tidak pula bagi para nabi yang diutus. Terlebih lagi
bagi selain keduanya.
Tauhid inilah tujuan dakwah para Nabi, karena dengan tauhid uluhiyah
ini manusia akan mengesakan Allah dengan ibadah, dengan kata lain agar manusia
tidak menyekutukan Allah dengan seorang pun, baik dengan menyembah atau
mendekatkan diri kepadanya, sebagaimana ia menyembah dan mendekatkan diri
kepada Allah.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum
kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada ilah melainkan
Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (QS. Al-Anbiya' : 25)
Adapun dalil-dalil untuk menetapkan tauhid uluhiyah ini adalah,
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya
kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 4)
“Hai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah
menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”
(QS. Al Baqarah: 21)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepadaNya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya"”. (QS. Az Zumar: 2-3)
“Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". Maka
sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kalian kehendaki selain
Dia.” (QS. Az Zumar: 14-15)
Dengan kata lain, tauhid uluhiyah inilah yang membedakan antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin. kaum musyrikin hanya mengakui bahwa Allah Rabb mereka tetapi mereka tidak beribadah kepadaNya. Ada pun kaum muslimin adalah yang mengaku bahwa Rabb alam semesta adalah Allah dan yang berhak diibadahi dengan benar dan sempurna dengan segala macam bentuk ibadah hanyalah Allah semata.
C.Tauhid Asma’ wa Shifat
Tauhid asma’ wa shifat adalah mengesakan Allah sesuai dengan Nama dan Sifat yang Dia sandangkan sendiri kepada diriNya dalam kitabNya atau
melalui lisan RasulNya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu
dengan menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan menafikan apa yang
dinafi’-kanNya. Tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.
Tahrif maknanya ialah mengubah lafazh/makna dari Nama dan Sifat Allah. Seperti perkataan sebagian orang yang
mengatakan bahwa sifat istiwa’ (bersemayamnya) Allah menjadi istawla (menguasai), sifat marahnya
Allah diganti dengan keinginan untuk menghukum atau membalas dendam, tangan
Allah disimpangkan menjadi keadilan, kekuasaan, dan nikmat Allah.
Ta’thil adalah menghilangkan atau menolak
sebagian atau seluruh sifat-sifat Allah. Misalnya
orang-orang Jahmiyah meniadakan seluruh sifat Allah. Atau misal ketika ada yang
berpikir bahwa sifat tangan bagi Allah adalah mustahil karena itu berarti
menyamakan Allah dengan makhluk. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan
kebenaran karena sifat-sifat Allah ini telah disebutkan dalam Al Qur’an dan
Hadits Nabi yang shahih sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah.
Takyif adalah menetapkan bentuk atau keadaan sifat itu. Maka sebagai seorang yang beriman kita tidak boleh
mengatakan, “Bagaimana cara Allah beristiwa’? bagaimana wajah Allah?”. Kita
juga dilarang menggambarkan Tangan Allah yang misalnya digambarkan bentuknya
bulat, panjangnya sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib
mengimani, namun dilarang untuk menggambarkannya.
Tamtsil atau sering juga disebut Tasybih adalah menyamakan nama dan sifat Allah
dengan makhlukNya. Misal kita menyamakan cara
beristiwa’nya Allah seperti joki naik kuda, atau sifat turunnya Allah ke langit
dunia di sepertiga malam terakhir seperti turunnya khatib dari mimbar.
Cukuplah kita menetapkan dan mengimani nama-nama dan
sifat Allah dengan dalil-dalil yang datang dari Qur’an dan Hadits.
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai
hari pembalasan” (QS. Al Fatihah: 2-3)
“Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah
Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al asmaaul
husna (nama-nama yang terbaik)” (QS. Al Israa’:110)
“Apakah kalian mengetahui ada seorang yang sama
dengan Dia” (QS. Maryam: 65)
“Dialah Allah, tidak ada Sesembahan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).”
(QS. Thaha: 8)
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan
Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Sesungguhnya Allah akan menggenggam bumi pada hari
kiamat dan langit-langit berada di tangan kanan-Nya, lalu berfirman : ‘Aku
adalah Raja.
2.3.Berikut
ini beberapa sifat sifat Allah SWT :
a.al- Qudrah (berkuasa)
“Dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu” (QS.Al- maida:120)
b.al-Iradah (berkehendak)
“Sesungguh nya Allah menetapkan
hukum-hukum menurut yang di kehendakiNya” (al- maidah:1)
c.al- Iimu (ilmu)
“Yang mengetahui yang
ghaib dan yang nyata” (al-Hasyr:22)
d. al –Hayat (hidup)
“Dan bertakwa lah
kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati”(al-Furqan:58)
e.As- Sam’u dan
al-Bashar (mendengar dan melihat)
“Sesungguh nya Aku
beserta kamu berdua,Aku mendengar dn melihat” (Thaha:46)
f.Al- kalam (Berbicara)
“Dan Allah telah
berbicara kepada musa dengan langsung” (an-nisa’ :164)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar